KDM Lebih Hasan Al-Banna Ketimbang Pengikutnya

Opini & Artikel 08 Aug 2026 09:15 4 min read 52 views By Udin Syam
KDM Lebih Hasan Al-Banna Ketimbang Pengikutnya
Penulis : Adrian | Perdana.Asia

lNI mungkin tulisan yang akan membuat banyak orang marah. Terutama fans No.8. Tetapi izinkan saya menjelaskan dulu. Saya mengagumi Hasan al-Banna. Bahkan putri pertama saya saya beri nama Albyna, terinspirasi dari nama beliau.

Karena itu, ketika saya menulis tentang Hasan al-Banna, saya tidak sedang menyerang beliau. Justru saya ingin mengajak kita kembali membaca karya-karyanya, bukan sekadar mendengar cerita tentang orang-orang yang mengaku mengikuti pemikirannya. Sebab sering kali, kita lebih mengenal pengikut daripada gagasannya. Padahal bisa jadi pengikutnya itu saking terlalu kreatif karena urusan dunianya, jadi lebih banyak improvisasinya ketimbang mengikuti orisinalitas risalahnya.

Kalau kita membuka Risalah Ta'lim saja, Hasan al-Banna tidak memulai perjuangannya dari perebutan kekuasaan. Beliau memulai dari membangun manusia, membangun keluarga, lalu membangun masyarakat. Barulah setelah itu berbicara tentang negara. Karena beliau memahami bahwa negara yang baik tidak mungkin lahir dari manusia yang rusak.

Semakin saya mengamati Dedi Mulyadi (KDM) semakin saya menemukan pendekatan yang terasa mirip. KDM hampir tidak pernah mengawali pembicaraan dengan Pilpres atau koalisi. Yang ia bicarakan justru anak putus sekolah, petani, sungai, kampung adat, jalan desa, hingga remaja yang terjerat obat-obatan. Bukankah itu juga berbicara tentang membangun manusia?

Hasan al-Banna juga berulang kali menekankan bahwa amal harus lebih banyak daripada kata-kata. Kerja lebih penting daripada slogan. Hari ini kita melihat banyak politisi sangat pandai berdebat, sangat pandai membuat narasi, bahkan sangat pandai menyalahkan lawan. Tetapi rakyat selalu bertanya dengan kalimat yang sederhana, "Apa yang sudah dikerjakan?"

KDM menjawab pertanyaan itu bukan lewat konferensi pers. Ia menjawabnya lewat rutinitas turun ke lapangan. Hampir setiap hari ada persoalan warga yang diselesaikan, ada anak yang dibantu sekolah, ada jalan yang diperbaiki, ada masyarakat yang didengar keluhannya. Orang boleh menyukai atau tidak menyukainya, tetapi sulit mengatakan bahwa ia hanya diam. Sampai kegiatan KDM bertemu dua orang tua renta disalahpahami, digoreng, dan dihakimi.

Dalam banyak risalahnya, Hasan al-Banna juga mengajarkan bahwa dakwah yang paling kuat adalah keteladanan. Orang lebih mudah mengikuti apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar. Mungkin itulah sebabnya konten-konten KDM begitu mudah diterima masyarakat. Yang ditampilkan bukan hanya pidato, tetapi tindakan. Aksi nyata.

Hasan al-Banna juga berbicara tentang keikhlasan. Berjuang bukan karena jabatan, bukan karena pujian, dan bukan karena keuntungan dunia. Tentu hanya Allah yang mengetahui isi hati seseorang. Kita tidak berhak menghakimi niat siapa pun.

Tetapi masyarakat juga berhak menilai apa yang tampak di depan mata. Ketika seseorang memperoleh penghasilan dari usaha yang halal, dari kontennya yang menarik dan mendidik, lalu sebagian besar digunakan kembali untuk membantu masyarakat, wajar jika publik melihat ada kepedulian di sana. Penilaian itu lahir dari apa yang mereka saksikan sendiri. Karena semua konten kreator besar juga menghasilkan banyak, tapi apakah mereka peduli?

Yang paling saya sukai dari Hasan al-Banna adalah obsesinya membangun manusia. Beliau percaya bahwa kalau manusianya baik, masyarakat akan baik. Kalau masyarakat baik, negara pun akan ikut baik. Urutannya selalu dimulai dari bawah, bukan dari kursi kekuasaan. 

Sayangnya, di banyak tempat justru yang terjadi sebaliknya. Energi lebih banyak dihabiskan membangun mesin politik daripada membangun manusia. Yang diributkan koalisi, yang dihitung kursi, yang dibahas jabatan. Sementara pembinaan karakter sering kali tertinggal jauh di belakang. Orang-orang hipokrit selalu mendapatkan tempat dibanding orang-orang beretik.

Karena itu saya berani mengatakan, kalau ukuran kita adalah pemikiran Hasan al-Banna dalam karya-karyanya sendiri—tentang kerja nyata, keteladanan, membangun masyarakat, dan mendahulukan amal sebelum retorika—maka saya justru melihat banyak nilai itu lebih tampak dalam gaya kepemimpinan Dedi Mulyadi. Bukan nampak dari elite-elite Partai yang nyaman duduk dikursi dewan, bertahun-tahun, berpuluh-puluh tahun.

Ini bukan berarti KDM adalah tokoh Ikhwanul Muslimin. Beliau aktivis HMI, tentu enggak mentoring dan mempelajari majmuatur rasail seperti anak-anak LDK atau KAMMI. Bukan pula berarti semua orang yang mengaku mengikuti Hasan al-Banna gagal mengamalkan ajarannya. Saya hanya mengajak kita membedakan antara mengagumi seorang tokoh dengan menghidupkan nilai-nilai yang diajarkannya. Kadang figur tokoh hanya dijadikan jualan saja, untuk memperdaya yang lainnya.

Sebab membaca risalah itu mudah. Mengutip kalimat-kalimatnya juga mudah. Yang jauh lebih sulit adalah menjadikan nilai-nilai itu hidup dalam cara kita memimpin, bekerja, dan melayani manusia.

Kalau benar kita mencintai Hasan al-Banna, mungkin pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan lagi, "Siapa yang paling sering menyebut nama beliau?" Pertanyaannya justru lebih sederhana, "Siapa yang hari ini paling banyak mengerjakan nilai-nilai yang beliau perjuangkan?"

Karena semua bisa saja mengaku mencintai Layla, namun apakah Layla mencintainya? (*).