KDM Tidak Memakai Simbol Islam, Tetapi Mengapa Banyak Muslim Menyukainya?

Opini & Artikel 08 Aug 2026 21:16 3 min read 53 views By Udin Syam
KDM Tidak Memakai Simbol Islam, Tetapi Mengapa Banyak Muslim Menyukainya?
Penulis: Adrian | Perdana.Asia

INI pertanyaan yang terus mengganggu pikiran saya. Mengapa Dedi Mulyadi (KDM), yang tidak pernah menjual simbol-simbol Islam dalam politiknya, justru banyak diterima oleh umat Islam? Tahukan tingkat kepuasan warga Jabar dan hasil survei elektabilitasnya?

Padahal di negeri ini tidak sedikit politisi yang sangat piawai menggunakan simbol agama. Ada yang selalu memakai peci, ada yang rajin mengutip ayat, ada yang fasih menyebut istilah Arab, bahkan ada yang mengklaim identik dengan partai dakwah.

TETAPI MENGAPA ELEKTABILITAS KDM JUSTRU TERUS MELESAT?

Saya kemudian teringat pemikiran Hasan al-Banna. Beliau lebih banyak berbicara tentang amal daripada simbol, lebih banyak berbicara tentang akhlak daripada atribut, dan lebih banyak menekankan pelayanan daripada pencitraan agama. Karena bagi beliau, dakwah bukan pertama-tama soal apa yang dikenakan, melainkan manfaat yang dirasakan manusia.

Coba kita jujur. Kalau ada orang yang setiap hari membantu rakyat kecil, membangunkan rumah warga yang roboh, menyekolahkan anak-anak yang kesulitan, membela petani, membantu kampung adat, menolong lansia, dan hadir ketika masyarakat membutuhkan, apakah orang akan lebih dahulu bertanya, "Pecinya merek apa?"

Tentu tidak. Rakyat jauh lebih mudah melihat akhlak daripada simbol. Mereka menilai dari apa yang dikerjakan, bukan sekadar dari apa yang dikenakan atau diucapkan.

Dalam Islam sendiri, Rasulullah ﷺ telah dikenal masyarakat Makkah sebagai Al-Amin, sosok yang dapat dipercaya, bahkan sebelum beliau diangkat menjadi nabi. Kepercayaan itu lahir dari karakter, kejujuran, dan perilaku sehari-hari. Artinya, akhlak mendahului pengakuan.

Saya tidak mengatakan simbol Islam tidak penting. Jangan disalahpahami. Simbol memiliki tempatnya sendiri dan menjadi bagian dari identitas. Namun simbol tidak akan memiliki makna jika tidak diiringi dengan pelayanan, kepedulian, dan keteladanan. 

Sebaliknya, pelayanan yang tulus sering kali membuat orang melihat nilai-nilai Islam, meskipun tidak dibungkus dengan slogan-slogan keagamaan. Mungkin di sinilah letak pelajaran besarnya. Disinilah universalisme Islam mendapatkan tempatnya.

Banyak umat Islam hari ini tampaknya bukan sedang mencari pemimpin yang paling sering mengucapkan istilah agama. Mereka justru muak, karena berkali-kali Korupsi terjadi pada sektor Agama. Kini mereka mencari pemimpin yang bisa dipercaya. Yang ketika berjanji berusaha menepati, yang ketika rakyat mengalami kesulitan datang membantu, dan yang ketika ada persoalan tidak menghilang. 

Kalau hari ini banyak Muslim menyukai KDM, menurut saya bukan karena beliau memakai simbol-simbol Islam. Justru karena banyak orang melihat nilai-nilai yang juga diajarkan Islam: peduli kepada fakir miskin, menghormati orang tua, menyayangi anak-anak, menolong tanpa melihat latar belakang, dan berusaha hadir ketika rakyat membutuhkan.

Tentu setiap orang bebas menilai apakah KDM sudah memenuhi semua itu. Tidak ada pemimpin yang sempurna, dan kritik terhadap kebijakan tetap penting. Namun ada satu hal yang menurut saya layak direnungkan bersama.

Mungkin masyarakat sedang bergeser. Bukan lagi memilih berdasarkan siapa yang paling banyak memakai simbol. Melainkan berdasarkan siapa yang paling banyak menghadirkan manfaat. Karena simbol bisa dijadikan topeng semata. Bukankah kita juga diajarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya?

Kalau ukuran itu yang dipakai, maka wajar bila rakyat lebih tertarik kepada pemimpin yang mereka rasakan manfaatnya setiap hari daripada kepada mereka yang hanya pandai menampilkan simbol-simbol yang indah. Karena pada akhirnya, simbol bisa membuat orang melihat kita, tetapi akhlak dan manfaatlah yang membuat orang percaya kepada kita.

Wahai kalian tokoh-tokoh partai Islam, koreksi dirilah. Berbenahlah. Kalau mau memimpin negeri ini. (*).